KOMPAS.com – Tuntutan pekerjaan, kesibukan menjalani berbagai aktivitas setiap hari, bahkan terkadang “korupsi” waktu istirahat di akhir pekan, membuat orang-orang dewasa terjebak dalam rutinitas. Bahkan mungkin saja, kesibukan ini membuat orang dewasa terlihat semakin menua melampaui usia, tak bersemangat dan lupa caranya menjadi lebih ceria, lantaran kehilangan energi positif untuk meremajakan kembali fisik dan psikis. Tak seperti anak-anak, yang selalu ceria karena mereka seringkali mentertawakan berbagai hal sederhana yang dilihatnya sehari-hari.

Coba perhatikan dunia anak-anak yang penuh semangat. Mereka bisa tertawa ratusan kali dalam sehari secara alami. Namun orang dewasa, bisa dibilang, mereka hanya tertawa dalam hitungan jari. Untuk menyemangati hidup Anda setiap harinya, cara anak-anak yang selalu ceria ini dapat ditiru. Sayangnya, orang dewasa banyak yang mulai lupa tertawa.Mengajak orang dewasa, muda juga tua, untuk tertawa bersama menjadi kegiatan sederhana yang dilakukan Klub Tawa Ceria Indonesia (KTCI) sejak September 2011 lalu. Namun, tertawa bersama bukan satu-satunya tujuan komunitas sosial ini. Didukung oleh 30 anggota aktif, KTCI menggelar kegiatan rutin dua mingguan di Monumen Nasional (Monas). Melalui tawa, KTCI ingin mengingatkan lebih banyak orang untuk membenahi diri, baik dari kesehatan maupun emosi.”Kegiatan ini berusaha menimbulkan nilai-nilai universal, perdamaian, cinta kasih, harmoni. Karena dengan tertawa dan menyebarkan energi positif bersama-sama, muncul rasa kebersamaan, perasaan damai, senang, bahagia, nyaman dan merasa saling bersaudara walaupun mereka yang datang mengikuti kegiatan ini tidak saling kenal satu sama lain. Perasaan-perasaan seperti ini dibutuhkan untuk menetralisasi berbagai aksi kekerasan yang terjadi. Berbagai aksi kekerasan takkan terjadi tanpa dorongan dari masyarakat. Kami berharap, melalui kegiatan ini, masyarakat dapat mendorong orang lain untuk tidak melakukan kekerasan, dengan memiliki kesadaran dalam diri menimbulkan rasa damai mulai dari diri sendiri,” jelas Joehanes Budiman, penyelenggara senam tertawa dari KTCI, kepada Kompas Female di Monas, Jakarta, Minggu (22/1/2012) lalu.

Senam tertawa inisiasi KTCI ini terbuka untuk umum, kalangan muda hingga tua, tanpa dipungut biaya. Jika Anda tertarik mengikutinya, senam tertawa akan diadakan kembali 19 Februari 2012 di bagian timur Monas, berdekatan dengan stasiun Gambir Jakarta. Senam tertawa bersama KTCI dimulai tepat pukul 06:00.

“Sasaran kami adalah mereka yang sedang berolahraga di kawasan Monas. Jadi siapa saja boleh ikut, gratis,” jelas Joehanes yang menyebutkan beberapa minggu terakhir, kegiatan ini mulai digemari kalangan muda.

Menurut Joehanes, tak sulit menjalani senam tertawa ini, apalagi peserta dibantu oleh fasilitator yang dengan percaya diri memotivasi peserta untuk tertawa. “Otak kita sebenarnya tak bisa membedakan antara tertawa pura-pura dan alami. Pada awalnya memang butuh tertawa pura-pura untuk memancing semua peserta tertawa, namun lama-kelamaan, mereka akan tertawa secara alami dengan sendirinya,” jelasnya.

Senam tertawa dilakukan melalui sejumlah tahapan. Senam tertawa diawali dengan pemanasan fisik selama 10 menit, lalu mulai tertawa nonstop selama 20 menit, termasuk dengan stimulasi seperti tepuk tangan dan lainnya. “Saat tertawa inilah hormon endorphin keluar,” lanjut Joehanes. Berikutnya, untuk menyebarkan hormon endorphin ke seluruh tubuh, dilakukan gerakan-gerakan tertentu selama lima menit. Tak berhenti sampai disitu, Anda pun akan diajak untuk mencari tahu mengapa tertawa bersama memberikan dampak positif bagi kesehatan, fisik dan psikis. “Tahapan akhir, ada diskusi interaktif dengan dokter umum juga psikolog yang menjadi bagian dari komunitas untuk membahas mengenai fungsi tertawa,” tuturnya.

Menurut Joehanes, mereka yang berani tertawa di depan umum, bahkan bersama-sama dengan orang lain yang tak dikenalnya secara personal, juga dapat membangkitkan kepercayaan diri. Berbagai nilai-nilai positif dirasakan para peserta senam karena tertawa memunculkan perasaan positif dalam diri setiap orang. Mengenai metode senam tertawa ini, Joehanes mengaku masih merasa perlu mengembangkan lebih jauh lagi untuk memaksimalkan manfaatnya. “Kami mulai bernyanyi bersama di akhir sesi, ini metode baru yang sedang kami kembangkan,” ungkapnya.

Terapi tertawa untuk kesehatan fisik dan psikis sebenarnya sudah banyak dipraktikkan, di dalam dan luar negeri. Joehanes menyontohkan, terapi tertawa dengan metode coaching dapat ditemui di Bali dengan biaya sekitar Rp 300.000 per sesi.

Anda boleh memilih, jika ingin mencobanya tanpa mengeluarkan biaya, datang saja ke Monas bergabung bersama KTCI. Jika merasa tertawa berdampak besar terhadap perbaikan kualitas fisik dan psikis, Anda bisa menelusurinya lebih mendalam saat berkunjung ke Bali misalnya. Apapun pilihan caranya, percayalah, dengan tertawa Anda tak hanya menjadi lebih ceria dan bersemangat, namun juga lebih sehat dan merasa lebih bahagia. Coba hitung kembali, seberapa sering Anda tertawa setiap harinya?

Sumber: http://female.kompas.com/read/2012/01/24/11112080/Senam.Tertawa.Agar.Orang.Dewasa.Kembali.Ceria

Open

Untuk Informasi dan Program Silahkan Menghubungi: +62-819-1047-3460